SINI GUA RACUNIN KALIAN DENGAN DONGHUA SATU INI!!

 Rekomendasi Film : Into The Mortal World (NO SPOILERS)

Poster Into The Mortal World - Sumber: Tix.id


Dalam beberapa tahun terakhir, tren film animasi 3D genre aksi telah berkurang. Sejak kesuksesan Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018), animasi dua dimensi sekarang menjadi lebih populer karena biaya produksi yang lebih murah dan gaya visual yang lebih beragam. Bahkan film-film besar seperti Frozen (2013), yang menghabiskan biaya setara dengan Spider-Man: Across the Spider-Verse (2023), tidak dapat mengikuti tren inovasi visual ini.


Namun, di tengah dominasi dua dimensi, Cina tetap konsisten dengan produksi animasi tiga dimensinya. Setelah sukses dengan film-film seperti Monkey King: Hero is Back dan Nezha, kali ini Cina kembali mengejutkan dengan film Into the Mortal World. Terinspirasi dari cerita rakyat Tiongkok, film ini menyajikan visual memukau yang kaya akan budaya, sesuatu yang patut diacungi jempol dan bisa menjadi inspirasi bagi negara lain, termasuk Indonesia.


Kisah Cinta Zhinu dan Niulang - Sumber: ferrebeekeeper.wordpress.com

Legenda dengan Sentuhan Baru


Into the Mortal World mengangkat kisah cinta antara Niulang, seorang penggembala sapi, dan Zhinu, seorang dewi penenun. Meskipun cinta mereka melintasi batasan ras, mereka tak bisa bersatu karena dipisahkan oleh Kaisar Langit. Kisah ini merupakan asal mula Festival Qixi, yang sering disebut sebagai "Valentine-nya Cina."


Film ini tidak sepenuhnya mengikuti cerita aslinya, melainkan mengambil perspektif dari anak mereka, Chin Feng. Setelah ibunya dihukum oleh Dewa Petir (berbeda dengan versi asli yang menyebutnya Kaisar Langit), Chin Feng didoktrin untuk percaya bahwa ibunya bersalah karena membiarkan delapan roh bintang melarikan diri ke bumi. Chin Feng ingin menebus kesalahan ibunya dengan turun ke bumi dan menangkap kembali delapan roh bintang tersebut. Di bumi, ia bertemu dengan Shu Fan, seorang gadis yang ingin bertemu ibunya di Kayangan. Keduanya bekerja sama untuk mencapai tujuan masing-masing, sambil menghadapi berbagai konspirasi yang menghentikan mereka.


Meskipun cerita ini memiliki plot twist di akhir, penonton yang akrab dengan cerita legenda atau telah mendengar versi aslinya akan mudah menebak plot twist tersebut. Selain itu, ceritanya tidak diceritakan dengan baik, terutama di bagian eksposisi, di mana semua informasi penting disampaikan di akhir cerita tanpa memberikan lebih banyak informasi di awal. Namun, efek visual dan aksi yang menakjubkan mengkompensasi kekurangan alur cerita.


Into The Mortal World - Sumber: Sonora.id


Visual dan Pertarungan yang Memanjakan Mata


Visual dan sound design Into the Mortal World adalah kekuatan utama dari film ini. Pertarungan yang luar biasa antara roh bintang dan pasukan Kayangan langsung ditunjukkan kepada penonton saat film dimulai. Semua efek visual, dari percikan debu hingga kilatan petir, dibuat dengan sangat baik. Animasinya sangat halus dan menakjubkan di adegan pertarungan, meskipun gerakan karakternya agak kaku di beberapa adegan biasa, seperti berbicara dan berjalan.


Chin Feng, sebagai karakter utama, memiliki kemampuan mengendalikan benang sutra yang digunakan secara kreatif dalam berbagai adegan pertempuran. Jurus-jurus magis yang ditampilkan, seperti naga petir yang menyerang dari langit, mengingatkan pada teknik kirin Sasuke dari Naruto. Perpaduan sinematografi, pergerakan karakter, dan visual efek magis membuat pertarungan-pertarungan dalam film ini benar-benar epik.


Menariknya, Into the Mortal World dibuat dalam waktu lima tahun dan melibatkan lebih dari 2.000 seniman dari Cina. Ini jelas terlihat dari seberapa indah setiap detail latar belakang, mulai dari desa yang terletak di atas bukit hingga pasar yang penuh dengan makanan yang lezat. Komponen visual seperti ini mengingatkan pada film Studio Ghibli, yang terkenal dengan suasana dan penggambaran makanan yang indah.

Into The Mortal World - Sumber: IMDb.com


Sound Design yang Tidak Kalah dengan Visual


Selain visual, elemen lain yang patut dipuji dari film ini adalah sound design-nya. Pertarungan yang epik semakin terasa hidup dengan efek suara yang megah dan menegangkan. Sayang sekali jika film ini tidak ditonton di bioskop, karena sound system yang mumpuni akan membuat pengalaman menonton jauh lebih imersif.


Selain itu, musik yang dibuat dengan menggunakan alat musik tradisional Cina, seperti pipa, menambah nuansa budaya yang kuat ke dalam film ini. Soundtracknya mengingatkan kita pada keindahan musik dari Kungfu Panda, yang juga menggunakan elemen musik tradisional Cina yang bisa mengaduk emosi penonton.


Secara keseluruhan, Into the Mortal World adalah sebuah karya animasi yang cakep dari segi visual dan sound, meskipun cerita yang disajikan terasa standar dan mudah ditebak. Bagi penonton yang mencari pengalaman visual memukau dengan adegan-adegan aksi yang seru, film ini sangat direkomendasikan. Namun, jika berharap pada cerita yang mendalam dan penuh kejutan, mungkin film ini belum bisa memenuhi ekspektasi tersebut. Into the Mortal World tetap menjadi film animasi yang layak ditonton, terutama bagi para penggemar animasi yang ingin melihat bagaimana budaya dan cerita rakyat Tiongkok diangkat ke layar lebar dengan sangat indah.


Final Rating: 8,0/10


Bagi kalian yang belum menyaksikan Into The Mortal World, film ini tersedia dan bisa disaksikan di bioskop kesayangan anda. Nantikan bahasan kami di segmen ‘Rekomendasi Film’ lainnya. Ciao!


(Winson)****


Comments

Post a Comment