Superhero Hellboy Kembali Lagi dalam Film “Hellboy: The Crooked Man”

 

Hellboy: The Crooked Man membawa kita kembali ke suasana klasik dengan nuansa horor-mistik yang lebih setia pada komik asli karya Mike Mignola. Berlatar tahun 1959, film ini menghadirkan atmosfer retro yang lebih gelap dan suram, memberikan rasa baru yang berbeda dari versi film sebelumnya.


Cerita mengikuti perjalanan Hellboy (diperankan oleh Jack Kesy) bersama rekannya, Jo (Adeline Rudolph), yang secara tak sengaja terdampar di desa terpencil. Di sana, mereka menemukan penduduk yang terjangkit penyakit misterius dan hidup dalam ketakutan terhadap kekuatan sihir. Sosok menyeramkan yang dikenal sebagai The Crooked Man diyakini berada di balik teror ini, menghadirkan ancaman baru bagi Hellboy.


Sutradara Brian Taylor, yang sebelumnya membesut Crank dan Ghost Rider: Spirit of Vengeance, dikenal akan gayanya yang penuh aksi dan intensitas. Dengan gaya visualnya yang berani dan eksperimental, Taylor berpotensi memberikan sudut pandang baru yang mungkin dibutuhkan oleh reboot ini, terutama setelah kegagalan reboot sebelumnya di box office.



Ditemani oleh seorang pemuda lokal bernama Tom (White), Hellboy dan Jo berniat menghadapi kekuatan gelap yang belum mereka pahami sepenuhnya. Plot cerita ini bergerak ke arah yang sepenuhnya berbeda dari film-film Hellboy sebelumnya. Dua protagonis utama ini kini dihadapkan pada tantangan dan lingkungan yang asing bagi mereka.


Kita mengenal Hellboy dari film-film sebelumnya sebagai karakter penuh aksi. Namun, dalam kisah kali ini, kekuatan fisik sang pahlawan tampaknya tidak cukup membantu.


Nuansa film juga sangat berbeda, kini didominasi elemen horor dengan kehadiran jump scare dan musik mengejutkan khas film horor. Sayangnya, meski premisnya menjanjikan dan Hellboy memiliki karisma yang kuat, cerita ini gagal menyajikan klimaks yang menggigit. Padahal, sang sutradara memiliki pengalaman dalam menggarap film superhero supernatural seperti Ghost Rider dan Jonah Hex.



Premis yang unik di film ini ditanggapi oleh sang sutradara dengan pendekatan estetik yang sangat berbeda dari seri sebelumnya. Dalam struktur ceritanya, kisah ini disajikan dalam babak-babak yang mengingatkan pada gaya film Tarantino. Berbeda dari gaya Del Toro yang menonjolkan set ekspresionistik, nuansa kali ini sepenuhnya bernuansa horor, memanfaatkan latar rumah tua dan lorong-lorong gelap dengan pencahayaan kontras, ditambah dengan efek jump scare dan trik-trik khas film horor.


Pendekatan teknis lainnya yang tidak biasa adalah penggunaan sudut rendah (low angle) dan pengambilan gambar close-up secara dominan. Namun, motif di balik teknik ini kurang jelas, dan pada beberapa bagian justru terasa kurang nyaman secara visual.


Selain itu, film ini sering kali menggunakan transisi fade-out (layar gelap) antara adegan, sesuatu yang tidak lazim dalam film fiksi, di mana fade-out biasanya dipakai dalam pergantian sekuen. Akibatnya, secara visual film ini terasa melelahkan.


Hellboy memang karakter yang unik dengan basis penggemar tersendiri. Bagaimana tanggapan penggemar komiknya mungkin beragam, namun saya sendiri bukan termasuk penggemar setia karakter ini.



Dua film pertama Hellboy memiliki kekuatan utama pada sosok sutradaranya (Del Toro), bukan pada ceritanya. Sepertinya sulit membayangkan film ini mencapai kesuksesan komersial; kemungkinan besar, tak lama lagi kita akan menemukannya di platform streaming.


Tidak perlu repot-repot menontonnya di bioskop, baik untuk penggemar maupun bukan. Film ini pada dasarnya hanya merupakan film horor biasa dengan Hellboy sebagai tokoh utamanya.


(Enzo)


Comments

  1. Asli film jelek bro, kembalikan film hellboy duluu

    ReplyDelete
  2. Akhir akhir ini film hellboy jelek semua

    ReplyDelete
  3. Pendalaman karakter seadanya

    ReplyDelete

Post a Comment